![]() |
| Image by Flickr |
Setelah
sempat diretas pekan lalu, surat kabar terbesar di AS, Wall Street Journal
(WSJ)mengungkapkan bahwa mereka masih menjadi target para peretas asal China.
Bahkan ada dugaan pemerintah Negeri Tirai Bambu tersebut ada dibalik banyak
aksi peretasan tersebut. Benarkah?
Pemilik Wall
Street Journal, Rupert Murdoch mengatakan dalam akun Twitter resminya
bahwa WSJ masih menjadi target para peretas China selama akhir pekan
ini.
Itu hanya
beberapa hari setelah WSJ memperkuat keamanan jaringannya karena pada
minggu lalu sistem komputer mereka disusupi oleh peretas untuk tujuan memantau
apa yang WSJ beritakan tentang China.
Pekan lalu The
New York Times juga telah menjadi korban dari kampanye peretasan selama
empat bulan dari China setelah menerbitkan sebuah laporan investigasi keuangan
dari PM China Wen Jiabao pada bulan Oktober 2012.
Bloomberg adalah
media global lain yang diserang oleh para peretas China tersebut dalam beberapa
bulan terakhir, dan disebutkan jumlah media yang menjadi target sangat banyak
karena pemberitaan mereka tentang politik China.
Meskipun
bukti langsung yang menyudutkan para peretas tersebut kepada pemerintah China
belum muncul, namun pakar keamanan cyber menduga bahwa pemerintah
China menjadi dalangnya, demikian seperti diwartakan TheNextWeb.
Menurut
para pakar, serangan-serangan yang berasal dari China kebanyakan sering sejalan
dengan negara yang menjadi target dari pemerintahnya.
China sempat mengakui
memang memiliki 'Cyber Army', tapi klaim itu menurut mereka hanya
semata-mata berfokus pada pertahanan negara.
China telah
terlibat dalam sejumlah insiden 'hacking' yang kontroversial.
September tahun lalu, situs pemerintah Jepang ditargetkan karena masalah
sengketa wilayah antara kedua negara.
Kamar
Dagang dan Industri AS atau US Chamber of Commerce juga pernah diretas yang
diyakini berasal dari China.
Salah satu
kasus yang paling besar adalah ketika Google meninggalkan negara tersebut pada
tahun 2010 setelah peretas China diduga mencuri beberapa kode kemanan mereka,
dalam upaya untuk mendapatkan akses ke akun hak asasi manusia.
inilah





