Kaca
yang digunakan secara komersial bahan dasarnya berasal dari tiga sumber utama:
pasir (SiO2), limestone, dan sodium karbonat. Nah, Corning yang membuat kaca
gorila itu mengombinasikan SiO2 dengan bahan kimia lain sebelum dilebur menjadi
kaca.
Hasilnya
aluminosilicate – yang berarti kaca yang mengandung alumunium, silikon, dan
oksigen. Kaca juga mengandung ion sodium (Na) yang sangat berperan dalam proses
selanjutnya.
Rahasia
kekuatan kaca Corning adalah sebuah proses yang diberi nama perubahan ion. Kaca
aluminosilicate tadi mengandung ion sodium. Corning lalu merendam lembaran kaca
itu ke larutan yang mengandung ion potasium. Dalam Tabel Periodik, sodium dan
potasium termasuk kelompok logam yang aktif. Logam-logam itu mudah bereaksi
dengan unsur lain.
Namun
dalam tabel itu sodium (Na) berada di atas potasium (Ka). Artinya atom sodium
lebih kecil dibandingkan dengan atom potasium. Mungkin Anda berpikir bahwa
ukuran atom bukan persoalan.
Namun
di situ rahasianya. Jika kita bisa mengeluarkan ion sodium dari kaca
aluminosilicate dan menggantikannya dengan ion-ion potasium yang lebih banyak,
lembaran kaca itu akan mengalami pemampatan.dikutip dari tribunnews
Untuk
proses pertukaran ion itu, pertama harus memecah ikatan ion sodium dengan kaca.
Itulah alasan mengapa larutan potasium begitu panas – Corning menyatakan bahwa
temperaturnya mencapai 400 derajat Celcius.
Pada
saat temperatur ini, panas memutus ikatan sodium dan kaca. Akan tetapi,
logam aktif dengan bobot lebih bisa tetap berikatan pada temperatur panas
seperti itu. Potasium memiliki bobot lebih berat dibandingkan dengan sodium
sehingga ikatan ion potasium dengan kaca tetap kuat meski temperatur mencapai
400 derajat Celcius.
Setelah
proses itu, aluminosilicate ditekan oleh ion-ion potasium. Penekanan itu
menciptakan lapisan pelindung kaca dan memberikan kekuatan yang tak dimiliki
kaca biasa. Lalu secara lingkungan, Gorilla Glass bisa didaur ulang.





