Habibie
menceritakan saat tahlilan mengenang Ainun, ia mendatangi makam istrinya di
Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata. Setelah pulang, Habibie merasa depresi.
"Jam 02.00 dinihari saya tidak pakai sepatu hanya pakai baju tidur nangis
seperti anak kecil mencari Ainun," kata Habibie usai acara nonton bareng
"Habibie&Ainun" di XXI Plasa Senayan, Rabu (16/1/2013) malam.
Habibie
lalu menghubungi dokter keluarga di Hamburg, Jerman. Habibie dinyatakan sakit
keras. "Itu terjadi kalau jodoh sudah bertemu lalu membentuk keluarga
sakinah, kemudian ada anak dan cucu. Anak dan cucu pergi, jodoh tinggal berdua,
lalu salah satu ada yang meninggal, dan yang ditinggalkan akan merasakan itu.
Habibie waktu itu seperti itu," ungkapnya.
Dokter
lalu memberikan empat alternatif kepada Habibie agar terlepas dari rasa
sakitnya. Pertama, Habibie harus masuk rumah sakit jiwa. Kedua, tinggal di
rumah pribadi namun ada tim dokter rumah sakit jiwa dan dokter dari Jerman yang
akan merawatnya. Ketiga, ia diminta menceritakan seluruh pengalamannya dengan
Ainun kepada teman terdekat. "Padahal teman kita berdua adalah
dokter," kata Habibie.
Terakhir,
Habibie disuruh menyelesaikan sendiri permasalahan itu. Ia lalu memilih
alternatif keempat. Habibie lalu mencurahkan isi hatinya dengan menulis.
Ia mengibaratkan seperti komputer yang sedang rusak. "Kalau laptop hang, harus direstart, maka saya ulangi lagi kisah itu, saya kenal Ainun saat ia berusia 12 tahun dan saya 13 tahun, saat itu tidak ada perasaan, tapi orangtua kami bersahabat," imbuhnya.
Ketika
bertemu kembali, kata Habibie, setelah ia dewasa dan melihat bahwa Ainun telah
berubah menjadi gadis yang cantik.
"Dulu
gula jawa sekarang gula pasir, saya nulis lancar tetapi saat menceritakan ia
telah tiada saya nangis," ujarnya.
Tribunnews | Tryneble
Tribunnews | Tryneble





